Rabu, 25 Juli 2012

Pengobatan Tradisional akan Hadir di 250 Kabupaten/Kota di Indonesia pada 2014



(Analisa/zulnaidi) Dari kiri, Ketua PDHMI Sumut Prof dr Amri Amir SpF (K) DFM SH SpAK, Kadis Kesehatan Medan dr Edwin Effendi MSc, Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradkom Kemenkes RI, Dr Abidinsyah Siregar DHSM MKes dalam simposium obat herbal di RSUD dr Pirngadi Medan, Sabtu (16/6).
Medan, (Analisa). "Sesuai rencana strategis kita, sampai 2014, ada 50 persen kabupaten/kota di Indonesia punya pelayanan kesehatan tradisional. Pelayanan diselenggarakan minimal di dua Puskesmas," kata Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional Alternatif dan Komplementer (Tradkom) Kemenkes RI, dr Abidinsyah Siregar DHSM MKes di sela-sela Simposium Nasional Herbal Medik, Penerapan Complementary Alternatif Medicine (CAM), Herbal Medik dan Akupuntur dalam Pelayanan Kesehatan di RSUD dr Pirngadi Medan, Sabtu (16/6).
Acara diselenggarakan PT. Sidomuncul bersama Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI), Perhimpunan Dokter Spesialis Akupuntur Medik Indonesia (PDAI) dan Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Sumut.

Abidin menjelaskan, saat ini ada 497 kabupaten/kota. Kalau targetnya 50 persen, berarti sekitar 250 daerah. "Maka akan ada 500 Puskesmas di setiap kabupaten kota nanti yang menerapkan pelayanan tradisional," sebutnya. 

Saat ini, tambahnya, sudah ada 200 Puskesmas yang menjalankan program tersebut dan 40 rumah sakit. "Targetnya, 72 rumah sakit pada tahun 2014 sudah bisa menjalankan program komplementer pelayanan pengobatan herbal. Kita optimis tercapai target. Malah bisa over target," tambahnya.

Sebenarnya, lanjut Abidin, banyak daerah yang meminta atau menyatakan siap menjalankan sistem tersebut. Hanya saja, karena keterbatasan obat herbalnya yang tidak memadai. 

"Saat ini 95 persen bahan baku obat kita impor. Untuk obat herbal sendiri, masih sedikit. Soalnya, yang disediakan pabrikan obat tidak serta merta bisa dipakai untuk pengobatan, karena harus melalui pengujian dari BPOM dan Kemenkes," jelasnya.

Teruji

Menurut dia, paling tidak ada dua konsentrasi dalam pengobatan tradisional. Pertama, memilih jenis obat untuk promotif dan preventif. Kedua, herbal yang digunakan untuk pengobatan di rumah sakit. "Untuk hal kedua ini, obatnya harus benar-benar teruji dan tidak menimbulkan masalah negatif. Karena itu, dikatakan komplementer. Dia bukan tandingan obat tapi pendukung," tambahnya.

Begitupun, lanjutnya, keputusan menggunakan pengobatan herbal sepenuhnya ada di tangan dokter. "Saat ini, dokter sudah punya hak untuk meresepkan," sebutnya.

Ditanya mengenai sistem pengobatan tradisional yang ada di Indonesia, menurutnya, sejauh ini baru ada tiga cara pengobatan tradisional yang diakui pemerintah untuk digunakan di layanan kesehatan formal. 

Pertama, akupunktur. Bidang ini sudah ada dokter spesialis akupunktur medik. Kedua, penggunaan herbal medik. Di Indonesia baru ada 6 jenis fito farmaka atau obat herbal yang sudah menjadi kapsul dan 38 obat herbal yang terstandar. 

Ketiga, sistem pijatan daerah tertentu. Bukan seperti pijat kampung atau di panti pijat, tapi cukup memijat bagian khusus. "Misalnya, ada pasien datang, setelah diperiksa ternyata hanya mengalami kelelahan dan cukup dengan pijatan tertentu. Tidak perlu obat. Jadi, di sini dokter harus bijak kapan diberikan obat atau tidak," ungkapnya.

Unggul

Dia mengaku optimis Indonesia bisa unggul dari sistem pengobatan tradisional hingga tingkat dunia. Pasalnya, negeri ini paling banyak memiliki bahan obat baik di atas permukaan tanah maupun biota laut yang bisa dijadikan bahan kesehatan. "Bahan tradisional kita terbesar di dunia mengalahkan Brasil dan Angola," ujarnya.

Dari sisi ini dan kebiasaan orang Indonesia sendiri, maka tidak ada alasan lagi bahwa negeri ini bisa tertinggal dalam hal pelayanan kesehatan tradisional oleh negara-negara lainnya. "Bahan, survei WHO menilai, 80 persen penduduk Asia dan Africa sangat tergantung obat tradisional," tambahnya.

Prof Dr Edi Dharmana dari pengurus besar Ikatan Doktor Indonesia (IDI) menambahkan, obat herbal atau sistem pelayanan kesehatan tradisional sebenarnya sudah dikenal sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Fakta Ilmiah

Namun terkendalanya sosialisasi di tingkat masyarakat perkotaan, adalah belum adanya bukti empiris dan fakta-fakta penelitian terkait khasiat obat herbal atau pengobatan tradisonal. Selama ini pembuktiannya hanya didasari oleh pendapat orang-orang terdahulu, sementara belum ada pembuktian yang valid akan hal itu.

"Tetapi juga perlu diketahui, sebagian mahasiswa saya di fakultas kedokteran sangat banyak melakukan penelitian akan obat herbal. Hasilnya mereka menemukan beberapa kelebihan yang terdapat pada beberapa jejamuan. Namun untuk bisa digunakan masyarakat tentunya harus dilakukan uji klinik kembali dan biayanya tidak murah. Hal itu yang mendorong kami agar pemerintah bisa membantu," ujarnya.

Sementara itu, Dr Aldrin Nelwan selaku spesialis akupuntur medik saat dimintai pendapatnya mengaku, bidang kedokteran saat ini memang tengah mengarah ke sistem pengobatan herbal atau jamu. Banyaknya khasiat jamu atau herbal terbukti berdasarkan testimoni harus segera ditindak lanjuti dengan melakukan penelitian.

"Memang arah pengobatan kita akan menyentuh gaya tradisonal. Tetapi sebagai dokter kami membutuhkan bukti ilmiah sebagai dasar tindakan kami kepada pasien," ucapnya.

Sedangkan Public Relation PT. Sidomuncul Nanik Sunarso menambahkan, seminar ini untuk memahami perlunya dilakukan implementasi sesegera mungkin untuk penerapan pelayanan CAM dalam hal ini akupuntur dan herbal medik pada pelayanan kesehatan primer sampai rumah-rumah sakit. 

Acara dibuka Kepala Dinas Kesehatan Medan dr Edwin Effendi MSc. Turut hadir Direktur RSUD dr Pirngadi Medan dr Dewi Fauziah Syahnan SpTHT dan Ketua PDHMI Sumut Prof dr Amri Amir SpF (K) DFM SH SpAK.(nai)

1 komentar:

  1. Bagaimana pelatihan dokter herbal ? Bagaimana pendaftaran anggota Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia ?

    BalasHapus